Wow, 82 Hari, Polres Jombang Ungkap 91 Kasus Narkoba - suarajombang.net

Terbaru

Sabtu, 23 Maret 2019

Wow, 82 Hari, Polres Jombang Ungkap 91 Kasus Narkoba

Jombang - Kabupaten Jombang yang terkenal dengan sebutan Kota Santri ternyata masih menjadi surga bagi peredaran narkoba. Betapa tidak, selama 82 hari terakhir, Satreskoba Polres Jombang membongkar 91 kasus dengan 108 orang tersangka. 
( Polres Jombang Komitmen Berantas Peredaran Narkoba di Kota Santri )
Dari ungkap kasus itu, Kasat Reskoba Polres Jombang AKP Muhammad Mukid, menyatakan pihaknya berhasil mengamankan barang bukti berupa sabu-sabu sebanyak 57,60 gram dan pil koplo 36.282 butir. “Para tersangka ini mereka berasal dari beberapa jaringan, narkoba dipasok dari Surabaya dan Sidoarjo,” katanya, Jumat (22/3/2019).

Mukid menjelaskan, sebanyak 91 kasus tersebut merupakan hasil pengungkapan Sat Reskoba dan Polsek jajaran. Rinciannya, pengungkapan dari Sat Reskoba 49 kasus (narkotika 40 kasus, pil koplo 9 kasus) dengan 61 tersangka.

Dari jumlah itu, barang bukti yang disita sebanyak 52,24 gram sabu dan 33.462 butir pil koplo. “Sebanyak 61 tersangka itu terdiri dari 52 pengedar dan sembilan orang pengguna,” kata Mukid sembari membeber barang bukti yang dimaksud.

Sementara dari polsek jajaran berhasil mengungkap 42 kasus (narkotika/sabu 4 kasus dan pil koplo 38 kasus), dengan 47 tersangka. Dari situ, polisi menyita sabu sebanyak 1,36 gram dan 2.820 butir pil koplo.

“Sehingga jumlah total dari Sat Reskoba dan polsek jajaran sebanyak 91 kasus dengan tersangka 108 orang. Para tersangka terdiri dari 90 orang pengedar dan 18 pengguna,” katanya menegaskan.

Mukid mengatakan, sabu dan pil koplo yang masuk Jombang itu berasal dari Surabaya dan Sidoarjo. Pembeliannya menggunakan sistem ranjau. Yakni, barang haram itu diletakkan di tong sampah oleh bandar.

Selanjutnya, pengedar mengambil barang dari tempat sampah itu secara sembunyi-sembunyi. “Barang tersebut diambil di tong sampah di belakang sebuah mall di Surabaya dan dekat alun-alun Sidoarjo,” ungkap Mukid.

Mukid mengaku kesulitan mengungkap identitas para bandar tersebut. Alasannya, mereka menggunakan nomer tersembunyi atau privat number saat komunikasi dengan pengedar.

“Kami masih melakukan penelusuran. Termasuk bekerjasama dengan Polda Jatim guna membongkar jaringan tersebut,” pungkas Mukid saat merilis kasus tersebut. (*)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar