Lebih Dekat dengan Pak Sub, Santri Kiai Ahmad Shidiq yang Berjihad di Politik - suarajombang.net

Terbaru

Senin, 29 Januari 2018

Lebih Dekat dengan Pak Sub, Santri Kiai Ahmad Shidiq yang Berjihad di Politik


SUARAJOMBANG.NET - Pak Sub adalah panggilan akrab dari M Subaidi yang tak lain Bakal Calon Wakil Bupati Jombang pendamping Nyono Suharli Wihandoko periode 2018-2023. Nama Pak Sub semakin dikenal masyarakat Jombang setelah pria kelahiran Kabupaten Pamekasan 12 Juli 1965 ini menjadi tokoh politisi di kota santri.

Kepiawaian dan kecerdasannya dalam berpolitik di Jombang ditempanya setelah berproses di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Pilihannya berjihad melalui dunia politik di PKB ternyata karena pengaruh kulturalnya di Nahdlatul Ulama (NU). Bukan hanya karena Pak Sub dilahirkan dari keluarga kiai NU di tanah Madura, tapi perjalanannya menjadi santri di Ponpes Ashiddiqi Putra (Ashtra) Kabupaten Jember semakin meyakinkan dirinya dalam ber-PKB, karena partai ini didirikan tokoh-tokon NU.

Sebab, ke-NU-annya sudah tertanam kuat sejak Pak Sub menjadi santri KH Ahmad Siddiq (Rois Aam PBNU 1984-1989), yang tak lain Pengasuh Ponpes Ashiddiqi Putra (Ashtra) Jember. Sehingga ketika berpolitik, Pak Sub masuk ke PKB.

“Saya sekolah di MTsN dan MAN Jember. Nah, selama menempuh pendidikan formal ini, saya sekaligus nyantri ke Kiai Ahmad Siddiq. Enam tahun saya mondok disana, dan ketika itu, ngajinya langsung kepada Kiai Ahmad Siddiq. Yaitu dari tahun 1978 sampai 1984,” kata Pak Sub.

Seperti diketahui, KH. Achmad Siddiq merupakan tokoh NU yang mampu merumuskan secara jelas hubungan antara Islam dan Pancasila yang pada awal tahun 1980-an menjadi isu kontroversial dan hampir semua kalangan di negeri ini menolaknya. Kecuali beberapa tokoh yang salah satu di antaranya adalah KH. Achmad Siddiq. 

Dalam masalah ini, KH. Achmad Siddiq menjelaskan secara jernih bahwa Islam adalah agama dan Pancasila sebuah ideologi. Pancasila merupakan sesuatu yang sama pentingnya, tetapi tidak seperti agama. Agama dan Pancasila tidak boleh dicampuradukkan, agama berasal dari wahyu sementara ideologi merupakan hasil pemikiran manusia, dan bagaimanapun juga sebuah ideologi tidak akan pernah mencapai derajat ke tingkat agama. Umat Islam boleh berideologi apa saja asalkan ideologinya tidak bertentangan dengan ajaran agamanya.

Pemikiran-pemikiran KH Ahmad Siddiq inilah yang banyak mempengaruhi cara berfikir dan bersikap Pak Sub sebagai santrinya. Salah satunya tentang persoalan kebangsaan yang diperjuangkan melalui NU dan PKB.

Bahkan sebelum masuk di PKB, Pak Sub sudah memperdalam pengetahuannya tentang kebangsaan melalui Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) saat masih menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) di Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang pada tahun 1984 sampai 1989.

Berkat kecerdasannya pula, Pak Sub mampu menjadi dosen di Fisipol Undar Jombang sejak tahun 1993 hingga 2010. Jadi, selain aktif di NU juga akademisi di perguruan tinggi.

“Kalau S-2, saya selesaikan di Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada tahun 1997. Setelah itu saya mengabdikan diri untuk bangsa melalui NU, dan mendapat amanah menjadi Ketua Lakpesdam NU Jombang tahun 1997 - 2001,” lanjut Pak Sub.

Dalam perjalanan jihad politiknya, pria yang juga warga Desa Mojongapit, Kecamatan/ Kabupaten Jombang ini pernah menjadi Wakil Sekretaris Dewan Tanfidz DPC PKB Jombang 1998-2001, kemudian Sekretaris Dewan Tanfidz DPC PKB Jombang 2001-2006, dilanjutkan dengan menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Tanfidz DPC PKB Jombang 2006-2011, dan Wakil Sekretaris Dewan Tanfidz DPW PKB Jawa Timur 2011-2016.

“Kalau amanah menjadi Ketua Dewan Tanfidz DPC PKB Jombang itu pada periode 2011 sampai 2016. Saat ini, sebagai Wakil Ketua Dewan Tanfidz DPW PKB Jawa Timur sejak 2016 hingga 2021 nanti,” paparnya.

Pak Sub memaparkan, kiprahnya menjadi wakil rakyat dimulai sejak masuk sebagai anggota DPRD Jombang pada tahun 2004-2009 dari fraksi PKB. Kemudian, sejak tahun 2014 lalu terpilih kembali dengan menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Jombang hingga sekarang.

“Itu semua sebagai ijtihad untuk memberi manfaat kepada masyarakat. Dan selama saya dipercaya untuk mengemban amanah dari masyarakat, selama itu pula saya akan mempertaruhkan kemampuan saya untuk memperjuangkan keinginan baik masyarakat,” pungkas Pak Sub. (*/za)


Editor : A.Anshori