Wabup Hj.Mundjidah Wahab Buka Bedah Buku Khazanah Aswaja - suarajombang.net

Terbaru

Senin, 16 Januari 2017

Wabup Hj.Mundjidah Wahab Buka Bedah Buku Khazanah Aswaja




SUARAJOMBANG.net- Wakil Bupati Jombang, Hj.Mundjidah Wahab itu membuka kegiatan Bedah Buku Khazanah Aswaja yang digelar oleh Persatuan Guru Nahadlatul Ulama (Pergunu) Jombang di Aula Kantor PC Muslimat NU kota setempat, Minggu (15/1).

Hadir sebagai narasumber yakni tim penulis buku Khazanah Aswaja, KH Abdurrahman Navis. Sedangkan sang moderator, tak lain Direktur Aswaja Center NU Jombang, Yusuf Suharto.

Saat membuka acara, Wabup Hj.Mundjidah mengingatkan banyakya paham radikal saat ini, oleh karena itu dirinya menekankan penguatan tentang ajaran Islam Ahlussunnah Waljama’ah.

“Sekarang banyak paham radikal yang harus kita bentengi, kita perlu penguatan tentang ajaran Islam Ahlussunnah Waljama’ah,” ujar Wabup Jombang,

Pagelaran ilmiah yang mengangkat tema ‘Penguatan Pemahaman Islam Rahmatan Lil Alamin’ itu juga dihadiri Ketua Tanfidiyah PCNU Jombang, KH Isrofil Amar. Dalam sambutannya sebelum bedah buku, KH Isrofil mengapresiasi kegiatan tersebut. "Mudah-mudahan bisa kita pahami dan amalkan bersama, dengan pengamalan Aswaja akan terciptanya kehidupan yang tentram," kata KH Isrofil.

Saat memaparkan seputar buku yang akan dibedah, salah satu tim penulis, Yusuf Suharto yang juga moderator acara mengatakan, sebelum terbitnya buku Khazanah Aswaja, awalnya sudah ada buku Risalah Aswaja. "Bedanya, kalu buku Risalah Aswaja pengantarnya yaitu Rais Syuriah PWNU Jawa Timur, KH Miftahul Akhyar, sedangkan buku Khazanah Aswaja pengantarnya Rais Am PBNU, KH Ma’ruf Amin," ungkap dia.

Sementara KH Abdurrahman Navis, secara rinci menjelaskan tentang bagaimana awal mula lahirnya Aswaja. “Aswaja sudah ada sejak zaman Rasulullah, namun penamaannya sejak abad ke Tiga Hijriyah oleh Abu Hasan Al Asy’ari,” terang kiai yang juga Direktur Aswaja NU Center Jawa Timur ini.

Menurut kiai karismatik ini, Jombang adalah markasnya Aswaja. “Sebenarnya kalau kita berbicara Aswaja, markasnya itu di Jombang,” singkatnya.

Buku Khazanah Aswaja sendiri terdapat Enam bab, pertama tentang Konsep Aswaja, Kedua Aqidah dan Landasan Teoritik Aswaja, Ketiga Fiqih Aswaja, Keempat Tasawuf Aswaja, Kelima Aliran-Aliran di luar Aswaja dan NU, Kelima Aswaja Nahdhiyah atau KeNUan.

Kiai Navis menjelaskan, dalam buku khazanah Aswaja tidak termuat penyesatan kelompok-kelompok tertentu. “Dalam buku ini, kami tidak menyesatkan kelompok-kelompok selain Ahlussunnah atau NU, tapi kami menjelaskan apa kelompok itu, siapa tokohnya dan bagaimana pemikiran firkahnya,” jelas dia.

Ia kemudian mengajak seluruh hadirin untuk membuka pandangan atas paham-paham firkah di luar Aswaja, sebab menurutnya juga ada orang nahdhiyin yang mengikuti atau merangkap menjadi pengurus di luar NU. 


”Ya dalil dan amaliahnya itu Aswaja, cuma bedanya dengan NU, mereka lebih banyak Nahi Munkarnya dari pada Amar Ma’rufnya,” lanjutnya.

Tidak lupa, Kiai Navis menerangkan bahwa Aswaja NU Center lahir tanggal 31 Januari 2012 yang bertepatan dengan Harlah NU di Jawa Timur, dan Aswaja NU Center secara kelembagaan memang hanya ada di Jawa Timur. Upaya tersebut juga didasarkan rekomendasi hasil Muktamar NU di Makassar yang menginginkan NU hendaknya meneguhkan Aswaja di tengah warga Nahdhiyin.

“Sebelum muncul Aswaja Center, kita awalnya menggunakan KISWAH yaitu Kajian Islam Ahlussunnah Waljama’ah,” pungkas Kiai Navis. (*)