Unik, Dengan “Pampers” Petani Jombang Basmi Hama Tikus - suarajombang.net

Terbaru

Senin, 16 Januari 2017

Unik, Dengan “Pampers” Petani Jombang Basmi Hama Tikus




SUARAJOMBANG.net- Petani Desa/Kecamatan Bareng saat ini dipusingkan dengan serangan hama tikus yang tak berkesudahan. Hewan pengerat itu memakan bibit padi yang sudah disemai.

Dengan gencarnya serangan hama tikus tersebut membuat warga setempat, berpikir kreatif. Mereka menggunakan pampers atau bekas popok bayi, untuk membasmi hama pengerat tersebut.

 
Samiaji (36) warga setempat mengatakan saat ini petani Desa Bareng memasuki masa tanam. Warga sudah melakukan berbagai upaya menanggulangi hama ini. Hanya saja, hal itu tidak membuahkan hasil. Hingga akhirnya muncul ide unik. Yakni membasmi hama tersebut dengan pembalut bekas atau pampers bayi. Selain itu, warga juga mencampurkan bahan alami, yaitu getah buah bintaro.
 

"Getah buah bintaro itu kita campur sedikit air dan karbit. Kemudian ditaruh di atas bekas pembalut bayi yang sudah dibersihkan. Popok bayi itu lantas kita sumpalkan di lubang persembunyian tikus," kata Samiaji sembari memamerkan bahan ramah lingkungan yang dimaksud.
 

Samiaji bersama warga lainnya rutin melakukan gerakan gerebek tikus tersebut. Seperti yang dilakukan pada Senin (16/1/2017) pagi. Sebelum turun ke sawah, pembalut bekas dibersihkan. Setelah itu, buah bintaro dibelah untuk diambil getahnya. Bahan baku alami tersebut dicampur air dan karbit yang sudah dihaluskan.
Terakhir, pembalut yang sudah dicampur ramuan alami itu disumpalkan di mulut lubang tikus. Gas dari zat-zat tersebut secara otomatis masuk ke rumah hewan pengerat.

"Pembalut kita sumpalkan di lubang tikus. Kalau sudah terkena gas ini, tikus akan mati perlahan," katanya menambahkan.

 

Dipilihnya getah buah bintaro bukan tanpa alasan. Menurut Samiaji, getah tersebut mengandung zat beracun. Diantaranya, asam palmitat, asam stearat, asam oleat, serta asal linoleat. Komposisi itulah, lanjut Samiaji, mampu membunuh tikus sawah dalam waktu dua sampai tiga hari.
 
Selain itu, daya sebar racun juga cukup jauh karena pembalut punya daya serap cukup tinggi. Sehingga gas bisa muncul secara maksimal dan menyebar di lubang persembunyian tikus.
 

"Metode ini kita terapkan satu tahun terakhir. Walhasil, sangat efektif. Karena bisa membasmi hama tikus hingga 90 persen. Sudah begitu, cara tersebut juga tidak merusak ekosistem sawah. Pasalnya, yang kita pakai bahan alami. Persoalannya mungkin hanya pada proses penguraian pembalut. Itu sedang kita pikirkan," pungkas Samiaji. (*)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar